Pancasila dan Tuan Yudian

pancasila

Dalam rilis yang dikeluarkan oleh detik, kita dikejutkan oleh pernyataan Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Prof Yudian Wahyudi “musuh terbesar Pancasila itu ya agama,┬ábukan kesukuan” hal ini di ungkapkan oleh Yudian, karena menurut beliau akhir-akhir ini ada sekelompok oknum yang mengatas namakan agama yang mencoba mereduksi fungsi pancasila

Jika kita melihat secara sepenggal memang ucapan kepala BPIP itu sangat tendensius, ditengah masyarakat kita yang sekarang sedang sensitif terhadap isu-isu SARA, tidak bijak jika seorang ketua BPIP berujar seperti itu.

Apa yang diucapan Kepala BPIP terkait pereduksian Pancasila oleh sekelompok oknum ini adalah sebuah PR besar bersama khususnya BPIP. Kepala BPIP tidak seharusnya beropini di ruang publik yang terkesan membenturkan Pancasila dengan Agama, dan apa yang disampaikan tersebut merupakan sebuah langkah yang kontra produktif

Saya teringat apa yang di katakan Yudi Latif dalam bukunya Negara Paripurna “KeTuhanan dalam kerangka Pancasila merupakan usaha pencarian titik temu dalam semangat gotong-royong untuk menyediakan landasan moral yang kuat bagi kehidupan politik berdasarkan moralitas keTuhanan”. Sehingga atas landasan tersebut bangsa kita dapat mencapai apa yang para pendiri bangsa ini cita-citakan”

Pancasila sebagai Warisan Genuine

Meminjam teori Emelie Durkhiem dalam bukunya the elementary of religion, Durkhiem mengatakan bahwa Agama mempunyai fungsi-fungsi positif tertentu yaitu memelihara solidaritas dan keutuhan masyarakat, seperti hasil penelitian yang ia lakukan pada masyarakat industri eropa, solidaritas yang di timbulkan oleh agama katolik berpengaruh terhadap jumlah angka bunuh diri di masyarakat industri Eropa ketika itu.

Pada tahun 1945 Sebagai bangsa yang baru lahir, bangsa Indonesia ketika itu mayoritas penduduknya berprofesi sebagai petani dan nelayan, dimana solidaritas organik masih melekat dalam masyarakat yang masih sederhana, agama dan kepercayaan menjadi salah satu elemen perekat (solidaritas organik) adalah sebuah hal yang mungkin lumrah dalam masyarakat tersebut. Yang mana landasan perekat tersebut masuk kedalam dasar Negara yaitu sila pertama Pancasila.

Pencantuman prinsip ke Tuhanan pada sebuah dasar Negara merupakan warisan genuine para founding father bangsa ini. mereka melihat kedepan modernisasi dan sekularisme adalah sebuah keniscayaan, di perlukan sebuah perangkat untuk menghadapinya, di perlukan sebuah tembok kokoh dimana saya melihat disanalah peran dan fungsi pancasila sila pertama.

Dengan Pancasila harapannya, bangsa kita mampu menyerap segala hal yang baik dari sebuah gagasan modernisasi dan mengesampingkan hal-hal negatif yang di timbulkan dari modernisasi tersebut dan Pancasila sebagai perekat kehidupan berbangsa.

Ari Bahari

Penulis merupakan aktivis muda Jakarta yang mencintai Madilog nya Tan Malaka.

Tinggalkan Balasan