Dies Natalis HMI Ke-73

HMI

Umur mu hampir sama dengan berdirinya republik ini, 73 tahun bukan waktu yang sebentar, dan tidak mudah untuk tetap bertahan dengan berbagai macam benturan. Sejarah mencatatkan banyak pergolakan yang telah di menangkan dari mempertahankan kemerdekaan, pertarungan ideologi, dan mengisi kemerdekaan.

Pasca penggulingan orde baru dan memasuki era reformasi kita harus bersepakat bahwa kita ini sedikit demi sedikit mengalami dekadensi di banyak hal, Integritas, Moral, Wawasan keilmuan dan banyak hal lagi. Jumlah kader yang terus menurun di perguruan tinggi besar di kota-kota besar adalah sebuah indikator mulai turunnya minat terhadap organisasi ini.

Ada yang salah, apakah zaman yang telah berubah atau kita yang tidak bisa beradaptasi dengan zaman ? Kader Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) tidak bisa dan terus menerus berlindung dibalik kebesaran ayahanda lafran Pane yang telah menginisiasi lahirnya HMI, intelektual cerdas sekaliber Nurcholis Majid, atau politikus ulung sekelas Akbar Tandjung atau ilmuwan setaraf Fachri Ali dan Dawam Raharjo.

Sampai kapan kader-kader HMI bersembunyi di balik nama-nama besar di atas tersebut ?. Senior-senior kita telah berhasil menjawan tatangangan di zamanya.

Di Dunia yang makin banyak berubah, di era revolusi 4.0 perubahan itu berlangsung dalam hitungan menit dan detik, apakah kader-kader Himpunan Mahasiswa Islam akan mampu menghadapinya atau gagap dan gamang menghadapi ini ? Karena yang kita hadapi sekarang dan kedepan adalah Artificial Intelligence, Nano Technology, Robot dan lain sebagainya.

Namun jika kita merefleksikan diri di umurnya yang ke 73, kita seperti gagap dan gamang menjawab era distrupsi, tak ada ide segar dan terobosan yang dilakukan HMI.

Dinamika Internal HMI

Dinamika dalam sebuah organisasi adalah hal yang wajar dan lumrah, bahkan kadangkala dinamika tersebut di ciptakan supaya organisasi tersebut bisa melakukan akselerasi. Namun dinamika yang terjadi di HMI kadang-kadang membuat kita geleng-geleng kepala, kadang sampai terjadi benturan fisik antara sesama kader, “berteman melebih saudar” hanya sekedar selogan, Pengurus Besar (PB) HMI sebagai ujung tombak asik dengan politik cabang, rapat berjam-jam PB HMI hanya membicarakan konflik cabang, tidak ada terobosan program kerja atau gagasan yang mampu di telurkan. Bagi kawan-kawan yang pernah berproses hingga PB pasti pernah merasakan hal tersebut.

Himpunan Mahasiswa Islam membutuhkan role model baru yang mampu menginspirasi terhadap gerak perubahan yang ada, seperti pemikiran genuine lafran pane yang menginisiasi lahirnya Himpunan Mahasiswa Islam atau seperti Nurcholis madjid yang mampu menjadi lokomotif gerakan perubahan Islam pada zamanya.

Belum terlambat untuk berbenah, jika kita menganggap Himpunan sebagai Rumah besar bersama, mari kita rawat. merapihkan dan membenarkan yang telah rusak dan mempercantik rumah kita diami, sehingga dari rumah tersebut lahir kader-kader unggul dan tangguh yang siap menghadapi tantangan revolusi industri 4.0 ini.

Ada sebuah kutipan yang baik dan refleksi kita di dies natalis HMI ke 73 dari presiden ke-3 BJ Habibie “Kalau HMI mau tetap diperhitungkan performancenya kembali, kader HMI harus menata diri,” 

Selamat Dies Natalis ke 73 Himpunan ku

Ari Bahari

Penulis merupakan aktivis muda Jakarta yang mencintai Madilog nya Tan Malaka.

One Reply to “Dies Natalis HMI Ke-73”

Tinggalkan Balasan