Ada momen ganjil dalam dunia korporasi Indonesia minggu ini. Sebuah perusahaan tambang batu bara mengumumkan dirinya tidak sanggup memenuhi kewajiban pasokan ke pelanggan karena alasan force majeure, sementara pada saat yang nyaris bersamaan sahamnya melompat hampir 13% dalam dua hari karena salah satu orang terkaya di republik ini baru saja resmi membeli sepertiga perusahaannya. Kalau ini terjadi di sinetron, penontonnya sudah protes plotnya kebanyakan drama sekaligus.
Tapi ini bukan sinetron. Ini PT Bayan Resources Tbk (BYAN).
Jadi begini ceritanya. Pada 16 September 2026, Low Tuck Kwong, bos besar Bayan, dan putri pewarsinya, Elaine Low, meneken Perjanjian Jual Beli Saham Bersyarat dengan PT Jhonlin Baratama, kendaraan milik Andi Syamsuddin Arsyad alias Haji Isam. Objeknya: 10 miliar lembar saham BYAN, atau lebih presisinya 10.000.000.500 lembar, setara sekitar 30% dari total saham beredar perseroan yang mencapai 33,33 miliar lembar, seperti dilaporkan investortrust.id. Sebelum transaksi ini, Low Tuck Kwong menggenggam 40,25% saham BYAN dan Elaine Low 22%, gabungan mereka berdua sekitar 62,25%, dan yang dilepas ke Haji Isam cuma separuhnya, kira-kira.
Kenapa saya bilang “kira-kira separuhnya” itu penting? Karena angka 30% ini sebenarnya adalah anticlimax yang cukup mewah. Rumor yang beredar sejak pertengahan Agustus menyebut Haji Isam bakal mengambil alih sampai 62% saham Bayan, praktis seluruh kepemilikan keluarga Low. Seperti ditelusuri kronologinya oleh CNN Indonesia, rumor itu bermula dari foto Haji Isam berjalan-jalan meninjau tambang bareng Low Tuck Kwong di Kutai Kartanegara, lalu dipertegas laporan Bloomberg awal September yang menyebut entitas Haji Isam menawar sekitar US$3 miliar untuk 62% saham itu, sebuah angka yang oleh Bloomberg sendiri disebut jauh di bawah nilai pasar wajarnya. Manajemen Bayan waktu itu sempat membantah ada rencana apa pun, cuma bilang pemegang saham pengendali “dapat mempertimbangkan berbagai kesempatan dari waktu ke waktu.” Klasik. Itu bahasa korporat untuk “kami belum mau bilang apa-apa, tapi jangan kaget nanti.”
Sekarang setelah kesepakatan resmi, ternyata yang berpindah tangan cuma 30%, bukan 62%, dan lewat Jhonlin Baratama bukan lewat Jhonlin Agro Raya (JARR), entitas sawit Haji Isam yang sempat digosipkan jadi kendaraan akuisisi pada Agustus lalu, seperti dirinci Ajaib. Jadi rumornya salah dua kali: salah soal besarannya, salah juga soal kendaraannya. Yang benar cuma soal ada transaksi itu sendiri.
Bagian paling khas Bayan dari cerita ini adalah harga transaksinya, tidak diungkap. Sama sekali. Bayan cuma bilang penyelesaian transaksi masih menunggu sejumlah conditions precedent, alias syarat pendahuluan yang juga tidak dirinci, semacam kotak hitam ganda. Ajaib, dengan kreativitas yang layak diapresiasi, mencoba menghitung sendiri nilai transaksinya pakai harga pasar BYAN saat itu (Rp11.525 per saham), dan hasilnya sekitar Rp115,25 triliun. Angka ini murni perkalian sederhana, bukan harga resmi atau semacam cara menaksir berapa harga rumah tetangga dengan mengalikan luas tanahnya sama harga per meter di listing OLX terdekat. Berguna untuk gambaran kasar, tidak berguna untuk urusan hukum apa pun.
Mekanismenya sebenarnya masuk akal kalau ditelaah dari sisi insentif. Harga saham tidak diungkap itu bukan karena Bayan pemalu, itu karena keterbukaan informasi di bursa cuma mewajibkan pengungkapan fakta material transaksi, bukan detail negosiasi harga, apalagi kalau transaksinya masih bersyarat dan bisa batal. Mengumumkan harga sebelum semua syarat terpenuhi sama saja membuka kartu ke pihak lain yang mungkin masih bisa ikut menawar, atau membuat investor ritel panik kalau ternyata harganya di bawah pasar (seperti rumor 62% yang katanya diskon gede itu). Jadi diamnya manajemen ini, kalau dipikir-pikir, bukan bug. Itu fitur.
Lalu ada elemen paling ironis: force majeure-nya. Tiga anak usaha Bayan, yakni Tiwa Abadi, Tanur Jaya, dan Fajar Sakti Prima menyatakan tidak sanggup memenuhi kewajiban pasokan batu bara karena Kementerian ESDM belum menyetujui perubahan RKAB 2026 mereka. Dirjen Minerba ESDM, Tri Winarno, cuma bilang “sedang proses, mudah-mudahan minggu ini kelar” sebuah kalimat yang punya energi yang sama dengan “pesanan Anda sedang dalam perjalanan” di aplikasi ojek online yang sudah telat 25 menit. Jadi di satu sisi, perusahaan sedang berjuang meyakinkan pemerintah soal kuota produksi. Di sisi lain, pasar sedang berpesta karena ada pak haji masuk sebagai pemegang 30% saham. Dua berita ini datang dari perusahaan yang sama, di minggu yang sama.
Ini semacam pengingat bahwa harga saham dan kondisi operasional perusahaan itu dua makhluk yang kadang cuma hidup serumah, bukan menikah. Investor bisa saja terus mendorong harga BYAN naik karena optimisme soal siapa pemegang saham barunya dan spekulasi soal apa yang akan dilakukan Haji Isam selanjutnya di perusahaan itu. Sementara di ruang rapat lain, orang-orang operasional masih pusing menunggu approval kuota dari ESDM yang bisa menentukan berapa banyak batu bara yang benar-benar bisa mereka jual tahun ini.
Yang jelas, kalau Anda memegang saham BYAN dan bertanya-tanya kenapa harganya naik sementara perusahaannya lagi bilang tidak sanggup mengirim barang, jawabannya bukan karena logika pasar rusak. Jawabannya karena pasar, seperti biasa, sedang membeli cerita tentang siapa yang akan mengendalikan perusahaan lima tahun ke depan, dan bukan membeli ton batu bara yang gagal terkirim minggu ini.
